Lumbung Air CIRMA Model Kemandirian Petani dari Wilayah Resetlemen
Sejak kelompok tani di RT 15 RW 08 itu dibentuk pada awal Agustus oleh Yayasan CIRMA, hidup Maria bersama 16 anggota kelompoknya tak lagi sama. Mereka tak perlu membeli sayur di pasar, atau menjual ternak unggas untuk menutupi kebutuhan dapur.
BERITA
2/2/20262 min leer


Terik matahari memukul kulit siang itu, senyum Maria Goreti Nango tak juga surut. Di sela-sela tanaman hortikultura yang tumbuh di petak-petak kecil milik Kelompok Tani Lumbung Air CIRMA yang ia pimpin, Maria menerima kami dengan rona cerah yang sulit disembunyikan. Rabu, 10 Desember 2025, di Resetlemen Tanah Merah, Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, ia seperti membawa kabar baik dari sebuah wilayah yang lama dikenal kering dan sunyi.
Sejak kelompok tani di RT 15 RW 08 itu dibentuk pada awal Agustus oleh Yayasan CIRMA, hidup Maria bersama 16 anggota kelompoknya tak lagi sama. Mereka tak perlu membeli sayur di pasar, atau menjual ternak unggas untuk menutupi kebutuhan dapur.
“Semenjak Oktober kemarin kami tidak membeli sayur di pasar. Kami sudah memanen sayur sendiri. Bahkan sekarang kami punya kas kelompok dari penjualan sebagian hasil panen,” ujar Maria, senyumnya merekah.
Di sisi Maria berdiri Frederika Bulla, Emilia P. Lengari, dan bendahara kelompok, Tetty Jaha. Mereka ditemani pula pendamping dari Yayasan CIRMA, District Focal Point Matris Tamelab.
Tetty menambahkan, kas kelompok kini sudah mencapai Rp 650.000 dari hasil penjualan sayur. Baginya, angka itu bukan sekadar nominal—melainkan tanda bahwa kelompok kecil ini sedang tumbuh.
“Untung kami dibantu Yayasan CIRMA. Kelompok ini sudah punya kas. Kami percaya ke depannya akan semakin bertambah,” ujarnya.
Jejak Lama di Tanah Merah
Sebelum CIRMA hadir, Maria mengisahkan kehidupan petani di wilayah itu “memprihatinkan”. Tanah Merah dulu hanyalah hamparan lahan gersang tanpa penduduk. Warga menyebutnya Resettlement tanah Merah, lokasi permukiman yang disiapkan Pemerintah Indonesia pascareferendum Timor Timur 1999.
Saat itu Lebih dari 250.000 pengungsi tiba di NTT— Kupang, Belu, Malaka, TTU. Pemerintah kemudian membangun hunian darurat, lalu permukiman permanen bagi mereka yang memilih tetap menetap. Tanah Merah menjadi salah satu titik relokasi karena kedekatan geografis dan jaringan keluarga yang sudah lama terhubung di NTT. Kesunyian masa lalu itu masih membekas hingga hari ini, sebelum perlahan digerakkan berbagai inisiatif lokal.
Menghidupkan Tanah yang Lama Tidur
Kini Maria dan warga lain menyaksikan perubahan yang nyata. Yayasan CIRMA tak sekadar membentuk kelompok tani. Yayasan CIRMA yang dipimpin John Ladjar itu membantu pengadaan sumur bor, menyediakan toilet layak, memberikan alat pertanian, menyediakan benih sayur dan tanaman pangan, untuk dikelola bersama, serta mengajarkan pembuatan pupuk organik dan pupuk ekoenzim. Bahkan yayasan CIRMA menyiapkan lahan ukuran 80x 80 mtere persegi untuk kelompok tani Lumbung Air CIRMA.
“Hasilnya sudah dirasakan warga. Kami tidak lagi menyewa tengki air atau kesulitan bibit. Semua tersedia,” kata Maria.
Tak heran ketika bertemu wartawan dan tim pendamping CIRMA, Maria dan kawan-kawan nyaris tak pernah melepaskan senyum.
Pilot Project yang Sedang Bertumbuh
Menurut pendamping CIRMA, Matris Tamelab, kelompok tani ini memang tengah dijadikan pilot project yayasan. Karena itu pendampingan berlangsung sejak pengolahan lahan, pembibitan, pemupukan, pengairan, perawatan, hingga panen.
CIRMA bahkan menyediakan lahan milik yayasan untuk dijadikan contoh pengembangan hortikultura. Namun Matris mengakui satu hal: air masih menjadi tantangan.
“Hortikultura ini membutuhkan air. Sementara ini kelompok masih menggunakan air dari sumur bor yang sebenarnya diperuntukkan bagi warga,” ujarnya.
Sumur bor khusus kelompok belum tersedia. Karena itu CIRMA tengah berupaya menggandeng sejumlah pihak, termasuk Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, untuk mencari solusi terbaik.
“Kami sedang berupaya agar Kelompok Tani Lumbung Air CIRMA memiliki sumur bor sendiri,” kata Matris.
Sementara Pemerintah Kabupaten Kupang sejauh ini belum pernah membantu para petani di wilayah itu.
” Pemerintah Kabupaten Kupang sejauh ini tidak pernah hadir. Kami tidak pernah mendapat bantuan. Dari pemerintah Kabupaten Kupang, khususnya di bidang pertanian, ungkap Maria yang diamini tiga temanya.
Harapan yang Mengalir
Di tengah tanah merah yang panas, kisah Maria dan kelompoknya menghadirkan potret tentang perubahan: bahwa intervensi kecil—air, benih, alat, pendampingan—dapat menggerakkan lumbung-lumbung kehidupan baru.
Di sini, di lahan tua bekas resettlement pengungsi, sekelompok perempuan perlahan membalik sejarah. Tanah yang dulu gersang kini menumbuhkan sayur, harapan, dan masa depan bagi mereka yang bertahun-tahun menunggu perubahan datang.
//Delegasi (Hermen Jawa)
