Yayasan Media Flores Peduli Gelar Pelatihan Jurnalis untuk Perkuat Liputan Keadilan Iklim di NTT

Yayasan Media Flores Peduli (MFP) menjadi salah satu pihak yang mengambil peran strategis itu dengan menggelar Launching Program dan Pelatihan Penguatan Kapasitas Jurnalis untuk Keadilan Iklim, yang berlangsung 22—24 November 2025 di Swis-Belcourt, Kupang.

BERITA

2/2/20262 min leer

Yayasan Media Flores Peduli (MFP) menjadi salah satu pihak yang mengambil peran strategis itu dengan
Yayasan Media Flores Peduli (MFP) menjadi salah satu pihak yang mengambil peran strategis itu dengan

Tantangan perubahan iklim yang kian nyata di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong berbagai lembaga masyarakat sipil meningkatkan kapasitas jurnalis lokal agar liputan media semakin mampu mengangkat isu-isu keadilan iklim.

Yayasan Media Flores Peduli (MFP) menjadi salah satu pihak yang mengambil peran strategis itu dengan menggelar Launching Program dan Pelatihan Penguatan Kapasitas Jurnalis untuk Keadilan Iklim, yang berlangsung 22—24 November 2025 di Swis-Belcourt, Kupang.

Kegiatan ini diinisiasi sebagai bagian dari kerja kolaboratif Jaringan NGO untuk Keadilan Iklim di Timor Barat, bersama CIRMA dan Yayasan Nusa Timor Mandiri melalui skema Kemitraan Global bersama Climate Justice Resilience Fund (CJRF) — USA. Pelatihan tersebut dihadiri jurnalis dari berbagai media di NTT, yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi iklim kepada publik, tetapi kerap menghadapi keterbatasan pengetahuan maupun akses data.

Perubahan Iklim dan Tantangan NTT

Dalam undangan resmi kegiatan, YMP menegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat NTT, terutama di wilayah pedesaan yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam. Dampaknya terasa pada produktivitas pertanian, ketersediaan air, hingga ketahanan pangan.

“Perubahan iklim bukan lagi wacana global yang jauh dari keseharian masyarakat. Di banyak desa, gagal panen, kekeringan berkepanjangan, hingga berkurangnya sumber air telah menjadi pengalaman nyata,” demikian catatan penyelenggara.

Namun, pemberitaan mengenai isu ini di tingkat lokal dinilai masih cenderung bersifat reaktif, terbatas pada liputan bencana alam. Dimensi struktural, kebijakan, maupun aspek keadilan—siapa yang paling rentan, siapa yang paling terdampak—sering luput dari analisis pemberitaan.

Memperkuat Peran Jurnalis

Koordinator program, Bonavantura Taco, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan membantu jurnalis memahami isu iklim secara lebih menyeluruh, sehingga pemberitaan tidak hanya menggambarkan peristiwa, tetapi juga mengungkap akar persoalan dan mendorong perubahan kebijakan.

“Jurnalis memiliki peran strategis dalam mengedukasi publik dan mengawal kebijakan. Karena itu, kapasitas mereka perlu diperkuat agar liputan iklim tidak berhenti pada data kejadian, tetapi mampu menyentuh aspek keadilan iklim,” ujarnya.

Pelatihan selama tiga hari itu mencakup pemahaman dasar perubahan iklim, analisis kebijakan publik, teknik peliputan berbasis data, serta praktik storytelling yang berpihak pada kelompok masyarakat rentan—petani, perempuan, dan komunitas adat.

Menghubungkan Sains, Kebijakan, dan Publik

Melalui kegiatan ini, jaringan NGO berharap media di NTT dapat menjadi ruang penghubung antara pengetahuan ilmiah, kondisi lapangan, dan keputusan politik. Pelatihan ini juga diharapkan memperkuat kerja kolaboratif antara jurnalis, lembaga riset, dan organisasi masyarakat sipil.

“Keadilan iklim membutuhkan suara publik yang kuat. Media adalah saluran penting agar suara masyarakat terdampak dapat didengar dan diperhitungkan dalam proses pengambilan kebijakan,” demikian pernyataan penyelenggara.

Dengan kegiatan ini, Yayasan Media Flores Peduli berharap terjadi peningkatan kualitas pemberitaan iklim di NTT, sekaligus memperkuat literasi iklim masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok rentan.

//Delegasi(Hermen)