Yayasan Media Flores Peduli-Alfateta Indonesia Mind Power Academy Jakarta Gelar Pelatihan Baca Cepat

Yayasan Media Flores Peduli yang bermitra dengan Alfateta Indonesia Mind Power Academy Jakarta, menggelar Pelatihan Baca Sangat Cepat Tahap Pertama (tingkat dasar) bagi semua SD, SMP, SMA, mahasiswa dan para guru/dosen, Rabu, 31 Maret 2021.

BERITA

2/2/20262 min read

Yayasan Media Flores Peduli yang bermitra dengan Alfateta Indonesia Mind Power Academy Jakarta, menggelar Pelatihan Baca Sangat Cepat Tahap Pertama (tingkat dasar) bagi semua SD, SMP, SMA, mahasiswa dan para guru/dosen, Rabu, 31 Maret 2021.

“Jika kita tidak mengggalakkan minat baca maka kita akan tetap berada pada urutan ke-60 dari 61 negara di dunia,” kata Ketua Pengawas Yayasan Media Flores, Drs. Pieter M. Djoka, M.T, dalam rilis yang diterima, Sabtu, 3 April 2021.

Pieter mengutip Bambang Prakuso, pelatih utama Yayasan Alfateta Indonesia Mind Power Academy Jakarta, mengatakan, “Mengapa kami perlu melakukan pelatihan in? Karena sebentar lagi kita akan menghadapi era industry 4.0/5.0.”

Pieter mengatakan, apa jadinya jika bangsa ini tidak menggalakkan dan meningkatkan minat baca. Sebab fakta sudah berbicara bahwa Indonesia menjadi negara yang paling malas baca di dunia (Unisco: 2016). Dari segi urutan Indonesia bertengger pada angka 60 dari 61 negara di dunia.

Padahal kata Pieter, Indonesia merupakan pemilik perpustakaan terbanyak di dunia. Sesungguhnya, kata dia, telah terjadi kesalahan dalam kebijakan literasi di Indonesia.

Ia mengatakan, lembaga yang mengajarkan teknik baca paling cepat

menemukan fakta para sarjana strata 1, 2 dan 3 hanya < 250 kpm (setara dengan lulusan SD.

Fakta lainnya kata dia, banyak perpustakaan telah hadir namun tidak mengajarkan cara baca yang cepat. Jika kecepatan membaca rendah akan berpengaruh pada minat baca yang rendah pula.

Fakta lainnya kata dia, “Kita bukan malas membaca saja, tapi juga malas belajar dan tak ada niat untuk belajar."

Yayasan ini menargetkan pada tingkat dasar ini siswa mampu meningkatkan minat bacanya karena memahami manfaat membaca buku.

Pada tingkat selanjutnya, kata dia, mampu membaca satu hari minimal satu buku atau minimal 48 buku/tahun agar mampu mengalahkan bangsa ASEAN (lima buku/tahun), Jepang (13 buku per tahun), dan Eropa (24 buku/tahun).

Menurut penelitian saat ini, masyarakat di Indonesia membaca satu buku pun tidak. Jika ASEAN saja sudah mampu meningkatkan minat bacanya di atas 50%, penduduk Indonesia 0,001%.

Kondisi ini kata Pieter, sangat berbahaya jika membiarkan anak bangsa tidak memanfaatkan gadgetnya untuk hal yang bermanfaat sehingga tetap terlindas di era industri 4.0/5.0.

Ia juga mengatakan, jika ternyata para siswa memiliki minat untuk melanjut ke tingkat 2, maka, “ Kami kami mohon petunjuk dari Dinas Pendidikan atau Bapak Gubernur Provinsi NTT, apakah pemerintah dapat membantu pembiayaannya atau kami harus mengedarkan surat bantuan pembiayaan dari para orangtua, biaya dari dinas pendidikan, pemerintah daerah atau kami membuatkan proposal permohonan dana ke CSR atau Kemendikbud.”

Ia berharap dengan adanya pelatihan BACA SANGAT CEPAT ini bisa melakukan revolusi mental dengan mudah, cepat dan murah. Hanya penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dengan cepat merupakan harapan untuk bisa mengatasi permasalahan bangsa. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM. Paul Burin)